
|
PANDAN
ARANG II LEGEND
BEBERAPA PENDAPAT TENTANG ASAL USUL KI PANDAN ARANG
1.SERAT KANDHA BERDASARKAN TERJEMAHAN BUKU
BERBAHASA BELANDA (KBG.
540)
Seorang pemuda dari tanah Arab bernama Abdulah disuruh Sunan Ampel
pergi ke Pulau Tirang (sekarang : Semarang), Maulana Ibnu Abdulah
yang selanjutnya dikenal sebagai Kyai Pandan Arang.
2.SOEWIGNYO DALAM BUKUNYA KYAI AGENG PANDAN ARANG
BATAVIA 1938
Brawijaya raja Majapahit meninggallcan istana karena diserbu orang-orang
yang masuk Islam. Di desa Sawer bertemu dengan Sunan Kalijaga.
Dalam pembicaraan panjang akhirnya Brawijaya menyerah kepada Sunan
Kalijaga. Brawijaya diangkat menjadi Bupati Semarang bergelar
Kyai Pandan Arang.
3.SILSILAH MUSEUM SUMENEP
Sultan Trenggana mempunyai dua orang putra :
Pangeran Mas Pandan
Arang dan Ratu Ayu.
Pangeran Pandan Arang berputra Pangeran Kanoman.
4.RW DWIDJOSEOWIGNJO - 1941
Raden Patah berputra 9 orang, yang sulung bernama Raden Surya
(Pangeran Adipati Sepuh) bertempat tinggal di Sabrang Lor.
Setelah
naik tahta Pangeran Sabrang Lor bergelar Sultan Syeh Slam Akbar
II (1440 C = Sirno Papat Catur Aji) Sultan Akbat II berputra 4
orang :
a. Raden Emas Pembayun
b. Raden Emas Panenggak
c. Adipati Panaraga
d. Pangeran Anom Made Pandan Ngabdulsalam
Pangeran Made Pandan menurunkan Pandan Arang.
5. AN NOERTJAHJO -1953 SEJARAH WALI
Raden Patah menurunkan Pangeran Sabrang Lor (Adipati Sepuh)
atau
Sultan Demak II.
Setelah mangkat putranya bernama Made Pandan tidak mati menggantikan menjadi raja.
Kerajaan diserahkan kepada
Pangeran Trenggana adik Sultan Demak II.
Made Pandan meninggalkan
istana pergi ke Pulau Tirang.
Made Pandan menurunkan Pandan Arang.
CERITA RAKYAT SUNAN PANDAN ARANG
Ki Pandan Arang I yang dalam pemerintahannya cukup berhasil merasa
kecewa karma putrinya yang cantik jelita menderita sakit lumpuh.
Segala macam obat tela& diberikan dan orangorang pandai telah
didatangkan, tetapi tidak ada kemajuan. Putrinya tetap lumpuh.
Sampai-sampai mempunyai nadzar, barang siapa dapat menyembuhkan
putrinya akan diambil sebagai menantu.
Pads suatu hari Sunan Kalijaga memberitahu bahwa di Gunung Gede
ada orang yang pandai bernama Ranawijaya berasal dari Majapahit.
Atas permintaan Ki Pandan Arang I, Ranawijaya datang ke Kadipaten.
Dengan kesaktiannya dan per-Tuhan dengan mudah sang putri dapat
disembuhkan. Akhirnya Ranawijaya diambil sebagai menantu.
Pada saat Ki Pandan Arang I meninggal dunia, Ranawijaya menggantikan
dengan gelar Ki Pandan Arang II. Daerahnya maju pesat, rakyatnya
makmur termasuk perkembangan agama Islam cukup memuaskan. Namun
kemakmuran dan keberhasilan dalam pemerintahannya membuat Ki Pandan
Arang II lupa diri, ia jadi congkak, sombong dan kikir. Ia selalu mengejar
harta walaupun sudah melimpah ruah.
Mengetahui keadaan semacam itu Sunan Kalijaga datang
menyamar sebagai penjual rumput. Dalam kesempatan tawar menawar
disisipkan peringatan terhadap perilaku Ki Pandan Arang II yang
telah menyimpang dari ajaran agama Islam. Berulang Sunan
Kalijaga datang memperingatkan namun tak dihiraukan.
Akhirnya
Sunan Kalijaga menunjukkan kesaktiannya, setiap tanah yang
dicangkulnya berubah menjadi sebongkah emas dan diberikan kepada
Pandan Arang. Pandan Arang sangat heran terhadap kesaktian penjual
rumput. Setelah diketahui bahwa penjual rumput itu Sunan Kalijaga
maka bersujud dan bertaubat.
Pandan Arang melepaskan kedudukannya
sebagai Adipati ingin berguru kepada Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga
menyanggupi mengajarkan ilmu di Gunung Jabalkat dan tidak boleh
membawa harta benda.
Setelah bulat tekadnya Pandan Arang bersama istrinya meninggalkan
Semarang menuju Gunung Jabalkat, Dasar naluri seorang wanita,
Nyi Pandan Arang memasukkan seluruh perhiasannya dan sementara
uang dinar ke dalam tongkat yang akan dibawanya. Dalam perjalanan
Nyi Pandan Arang tertinggal jauh dari suaminya. Dia dihadang tiga
orang penyamun.
Direbutnya tongkat tongkatnya dan seluruh bawaannya. " Kangmas, tolong! Ada tiga orang penyamun! (Jawa: Kangmas, tulung!
Wonten Tyang, salah, tiga) ".
Menurut yang punya cerita tempat itu
sekarang diberi nama Salatiga (salah-tiga). Pada saat Ni Pandan
Arang kembali menolong istrinya, tiga orang penyamun itu marsh
merebut perhiasan yang dipakai Nyi Pandan Arang. Melihat sikap kasar
para penyamun Ki Pandan Arang menjadi marah. " Hei! Manusia mengapa nekad seperti kambing domba (Jawa : E, wong
kok drufhus kaya wedhus)."
Seketika wajah Sambangdalan pemimpin
penyamun itu berubah menjadl domba. Para penyamun takut mefihat
kesaktian Ki Pandan Arang. Sambangdalan bertaubat dan minta supaya
wajahnya dikembalikan seperti semula. Pandan Arang memaafkan kesalahannya
tetapi wajahnya tetap seperti domba. Sambangdalan akhirnya menjadi pengikut Pandan Arang dan lebih
dikenal dengan nama Syeh Domba.
Dalam berjalan Nyi Pandan Arang sering sekali ditinggal suaminya.
Sampai di suatu tempat suaminya tak kelihatan karena sangat jauh
di denan. Nyi Pandan Arang kepayahan dan beristirahat di bawah
pohon. " Kangmas, apakah sudah Napa, engkau terhadap says? Keluh Nyi Pandan
Arang (Jawa Kangmas, boys lali panjenengan kayo aku)."
Menurut yang punya cerita tempat beristirahat Nyi Pandan Arang
itu sekarang disebut Boyolali.
Setelah beberapa hari berjalan sampailah Ki Pandan Arang bersama
istrinya di bukit Jabalkat Dia berguru kepada Sunan Kalijaga.
Atas kecerdasan fan kerajinannya, Si Pandan Arang ditugasi sebagai
penyiar agama Islam di daerah selatan. Ki Pandan Arang mendirikan
perguruan di bukit Jabalkat. Pengikutnya makin lama makin banyak.
Selain pengetahuan agama,
diajarkan pals oleh Ki Pandan Arang tentang bercocok tanam, jugs
cara bergaul yang baik. Islam berkembang dengan pesatnya. Banyak
orang datang masuk Islam dengan mengucapkan Sahadat Tembayat.
Ajaran yang paling menonjol dari Ki Pandan Arang adalah "Patembayatan" (Kerukunan dan Kegotongroyongan).
Diceritakan bahwa pads saat mencari pengikut, Pandan Arang
pernah menjadi pembantu rumah tangga Ki Tasik, seorang tokoh masyarakat
terkenal di sebelah barat Jabalkat. Tugas pokoknya mencari ft
bakar dan membeli bergs ke pasar, karena Nyi Tasik pekerjaannya
sebagai penjual kue srabi.
Pada suatu hari Pandan Arang dimarahi
karena kayu bakar yang dicarinya hanya sedikit. Kue srabi tidak
dapat dimasak semuanya. Karena kemarahan Nyi Tasik, Pandan Arang
memasukkan tangannya ke dalam tungku. Dari jarinya keluar api
sehingga kue srabi dapat dimasak seluruhnya.
Ki Tasik dan Nyi Tasik
mengakui kesaktian Pandan Arang dan masuk Islam bersama penduduk
di Sekltarnya. Akhirnya Pandan Arang kembali ke Gunung Jabalkat. Berkat ajaran "Patembayatan" Ki Pandan Arang dapat mendirikan
masjid di bukit Gala.
Sampai akhir hayatnya Pandan Arang menetap
di Jabalkat dan jenazahnya dimakamkan di bukit Cakrakembang. Daerah
Jabalkat dan sekitarnya sekarang dikenal dengan nama Tembayat
atau Bayat.
THE LEGEND OF RORO JONGGRANG PRINCESS 
THE LEGEND OF BULUS JIMBUNG POOL
THE LEGEND OF SINONGKO POOL 
|